BERKORBAN
Korban
merupakan sepenggal kata yang mudah diucapkan tetapi sulit dilakukan. Padre Pio
memaknai kata korban sebagai suatu pemberian diri yang sempurna kepada Tuhan
dan sesama. Korban bagi Padre Pio bukan sekedar sebuah kata mati, melainkan sebuah
kata yang membutuhkan praktek. Sejak masa mudanya, yakni di masa awal menjadi
seorang frater, dia telah berusaha sungguh-sungguh menjalani korban bagi Tuhan
dan sesama. Dia bersedia dipimpin oleh Tuhan dan dijadikan alat Tuhan untuk
menolong orang lain. Dia juga mampu melintasi keterbatasan ruang dan waktu
dalam peristiwa unik bilokasi untuk menjalani pengorbanan dalam hidupnya. Sejak
masa mudanya, Padre Pio telah dipilih oleh Tuhan untuk melakukan hal-hal besar
dan mengagumkan. Dia menjawab panggilan Tuhan dan membiarkan dirinya dituntun
oleh kasih Tuhan. Saat ditahbiskan menjadi seorang imam Kapusin, dengan sangat
indah dia menuliskan idealismenya untuk memberikan hidupnya demi menolong orang
berdosa. Perjanjian itu dilaksanakannya dengan sungguh-sungguh. Baginya, korban
bukanlah sebuah kata mati, melainkan sebuah kata hidup dan menuntut kita untuk
mempraktekkannya.
(Pastor Thomas
Alfred Dino, OFMCap. – Moderator KSPP)
"Saya
percaya bahwa Padre Pio menerima rahmat dan beban
bukan
hanya karena memperbarui secara mistis Kurban Salib,
tapi
menghidupi Sengsara Kristus itu, dalam hati dan tubuhnya. "
(Most Rev. Mgr. Giuseppe Petralia, Bishop of
Agriegento (Sicily) August 10, 1975)
The
Transverberation of Padre Pio’s Heart
Padre
Pio ditahbiskan sebagai imam pada usia 23 tahun di Benevento, Italia pada
tanggal 10 Agustus 1910. Ia mengungkapkan perasaannya yang dituliskannya pada
kartu pentahbisannya “Yesus, helaan nafas dan hidupku, hari ini, dengan gemetar
- sepenuh hati, aku memuliakan Engkau dalam misteri cinta. Bersama-Mu biarlah
aku menjadi jalan, kebenaran dan hidup bagi dunia, namun bagi-Mu jadikanlah aku
seorang imam yang kudus, korban yang sempurna”.
Pemikiran
dan tulisan-tulisannya yang mengacu kepada kata ‘korban’ muncul berulang kali.
Dalam
suratnya kepada pembimbing rohaninya Padre Benedetto Nardella, Padre Pio mohon
izin untuk memperbaharui penyerahan dirinya sebagai korban. “Di masa lalu, saya
merasa perlu mempersembahkan diri kepada Tuhan sebagai korban bagi para pendosa
yang malang dan untuk jiwa-jiwa di Api Penyucian. Keinginan itu terus bertumbuh dalam hatiku
sehingga sekarang menjadi apa yang kunamakan gairah yang kuat. Sebenarnya
persembahan ini kerap kali telah saya
lakukan, memohon kepada-Nya untuk menimpakan kepadaku hukuman yang telah
dipersiapkan-Nya bagi para pendosa dan bagi jiwa-jiwa di Api Penyucian, bahkan
melipat gandakan beratus-ratus kali hukuman tersebut bagiku … tetapi sekarang
saya ingin membuat persembahan kepada Tuhan ini dalam ketaatan kepadamu Padre. Bagiku kelihatannya
Yesus sungguh menghendaki hal ini.”
Padre
Benedetto menyelami keinginan hati Padre Pio dan memberi izin kepadanya agar
mempersembahkan hidupnya bagi Tuhan.
Kelihatannya
Tuhan mendengar dan melihat, menunggu dan mempersiapkannya dari hari ke hari
untuk misi yang besar itu yang merupakan sebagian dari rencana-Nya bagi Padre
Pio.
Pada
tgl 5 Agustus 1918, Padre Pio menerima luka cinta mistik yang disebut sebagai transverberation atau transfixion of the heart. Transverberation
merupakan karunia mistik rahmat kudus, yang hanya dialami oleh sedikit
jiwa-jiwa terpilih dalam sejarah Kekristenan.
Dalam
teologi mistik hal itu digambarkan sebagai fenomena yang luar biasa karena pada
saat itu makhluk surgawi seperti malaikat
atau serafim terlihat menusukkan sebilah pedang pada jantung atau pada sisi
tubuh.
Bentuk luka di sisi tubuh yang
dilukiskan Padre Pio
Walaupun terasa sakit luar biasa, namun juga disertai
suka cita yang tak dapat terlukiskan dengan kata-kata.
Santa
Teresa dari Avila, Pujangga Gereja, mengalami juga hal serupa dan menuliskannya
dalam autobiografinya. Santo Yohanes dari Salib, dari Spanyol, pembaharu ordo Karmelit,
Pujangga Gereja dan teolog mistik lebih lanjut menjelaskan fenomena ini dalam
risalahnya: “Api Cinta Hidup.” Santo Yohanes berkata, “Hal ini dapat terjadi
jika jiwa mempunyai cinta yang membara kepada Tuhan… akan merasakan dikuasai
oleh Serafim dengan panah api cinta yang berkobar… Jika Tuhan terkadang
mengizinkan luka tersebut kasat mata, terlihat seperti tanda yang diakibatkan
oleh luka yang dalam.”
Pada
tanggal 21 Agustus 1918, enam belas hari setelah menerima karunia transverberation yang luar biasa itu,
Padre Pio menulis kepada Padre Benedetto dan menceritakan pengalamannya:
Berdasarkan
ketaatan, saya telah memutuskan untuk mengungkapkan kepada anda kejadian pada
malam hari tgl 5 Agt dan sepanjang esok
harinya tgl 6 Agt.. Saya hampir tak dapat mengungkapkan kepada anda hal yang
terjadi pada malam siksaan itu. Pada petang hari tanggal 5 Agustus, ketika saya
mendengar pengakuan dosa para seminaris (Padre Pio adalah bapa rohani di
seminari menengah dari tahun 1916-1932), saya tiba-tiba merasakan kengerian
karena penglihatan akan makhluk surgawi yang menampakkan diri pada mata
batinku.
Tangannya
menggengam semacam senjata seperti pisau baja runcing
sangat
panjang, yang tampaknya memancarkan api. Saat saya melihat semua ini, makhluk
tersebut dengan sangat cepat menusukkan senjata ke dalam jiwa saya dengan
sekuat tenaga. Saya berteriak dengan susah payah dan merasa sedang sekarat. Saya meminta seminaris
itu pergi karena saya merasa sakit dan kuat lagi untuk melanjutkan.
Penderitaan
ini berlangsung tanpa henti sampai pagi hari tgl 7 Agustus.
Saya
tak bisa menceriterakan betapa besar penderitaanku selama masa itu.
Bahkan
organ internal saya terkoyak dan tercabik oleh senjata,
dan
tak ada yang luput. Sejak hari itu saya terluka parah. Saya
merasa
di kedalaman jiwa saya ada luka yang selalu menganga,
menyebabkan
saya kesakitan terus-menerus. "
Dalam
suratnya kepada Padre Benedetto, Padre Pio tidak berbicara secara metaforis.
Dia telah terluka secara fisik dengan sebuah lubang pada sisi kiri tubuhnya
menembus ke jantung hatinya dan luka tersebut akan berdarah selama sisa
hidupnya. Setelah transverberation,
karena rasa sakit yang hebat dan tubuhnya lemah, ia berada di tempat tidur
selama tiga hari.
Ketika
membalas surat itu, Padre Benedetto, Bapa rohani dan yang dikaruniai rahmat
sebagai pembimbing jiwa yang handal, menulis dan berkata, "Semua yang
terjadi padamu adalah akibat dari cinta. Ini adalah percobaan, panggilan untuk
bekerja sama dalam karya penebusan dan karenanya menjadi sumber kemuliaan. . .
Tuhan menyertaimu. Ia sendiri Sabar,
Menderita karena Cinta, Penuh Kerinduan. Hati dan Perasaan-Nya yang terdalam,
hancur dan diinjak-injak, Hati-Nya hancur lebur, dalam bayang-bayang malam dan
bahkan terlebih lagi dalam kesedihan di taman Getsemani. Ia menyatukan
penderitaan-Nya dengan penderitaanmu dan penderitaanmu dengan penderitaan-Nya.
Demikianlah… Percobaanmu bukanlah penyucian, akan tetapi persatuan yang
menyakitkan. Fakta bahwa luka itu melengkapi penderitaanmu sama seperti
melengkapi penderitaan Sang Kekasih di
Kayu Salib. Akankah cahaya dan sukacita kebangkitan mengikuti? Saya harap
demikian, jika semua ini sesuai dengan kehendak-Nya. Ciumlah tangan yang telah
tertembus itu dan hargailah dengan lembut luka ini yang merupakan meterai
cinta.”
Sangat
penting untuk diketahui bahwa, Padre Pio menerima transverberation pada malam hari raya Transfigurasi (6 Agustus),
saat ia mendengar pengakuan, sakramen yang memegang peran penting dalam misi
dan pelayanannya bagi jiwa-jiwa.
Padre
Pio menjalani seluruh hidupnya dalam persatuan kasih dengan Kristus. Puncak
kehidupannya bersama Kristus adalah disalibkan bersama-Nya.
*Transverberation:
"
luka dengan rasa jantung bagaikan dicabik-cabik dan hal itu mengindikasikan
persatuan kasih atau persatuan tertinggi yang dianugerahkan oleh Tuhan Allah
kepada orang yang sangat istimewa dalam pandangan Allah."
--------------------
Sekitar satu bulan
lebih setelah transverberation itu, pada tgl 20 Sep 1918, rasa sakit
transverberation telah berhenti dan Padre Pio mengalami rasa damai yang sangat
mendalam.
Setelah
merayakan Misa, sementara Padre Pio sedang berdoa syukur di loteng paduan suara
di Gereja Our Lady of Grace, Padre Pio mengalami kejadian luar biasa lainnya.
Seorang yang
sama yang telah memberinya transverberation, dan yang diyakini sebagai Kristus
yang terluka, muncul lagi.
Padre
Pio menerima Stigmata - lima luka
Kristus, yang menjadi permanen dan akan tinggal padanya selama lima puluh tahun
ke depan hidupnya, yang menjadi penegasan kemiripannya dengan Sang Juru
Selamat. Padre Pio yang saat itu berusia 31 tahun, adalah imam pertama yang
menerima stigmata dalam Sejarah Gereja.
Salib yang terletak
di loteng paduan suara Gereja Our Lady of Grace
saat Padre Pio menerima stigmata
Dalam
sebuah surat kepada Bapa Benedetto pada tanggal 22 Oktober 1918, Padre Pio menggambarkan
pengalamannya saat menerima Stigmata:
"Pada
pagi hari tanggal 20 bulan lalu, di tempat paduan suara, setelah saya merayakan
Misa saya menyerah pada rasa kantuk yang membawa pada tidur lelap… Saya melihat
di depan saya seorang yang misterius mirip dengan yang saya lihat pada tgl 5 Agt
malam. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa dari tangan dan kaki dan sisi
tubuhnya menetes darah. Pemandangan ini menakutkan saya dan apa yang saya
rasakan saat itu tak terlukiskan. Saya pikir saya akan mati jika Tuhan tidak
campur tangan dan memperkuat hatiku yang hendak meledak keluar dari dada saya.
Penglihatan menghilang, lalu saya sadar bahwa tangan, kaki dan sisi tubuh saya
meneteskan darah. Bayangkan penderitaan yang saya alami terus menerus setiap
hari.. Luka di hati berdarah terus menerus, terutama dari Kamis malam hingga
Sabtu. Bapa yang terkasih, saya merasa mau mati
kesakitan karena luka ini dan malu sekali. Saya takut akan mati
kehabisan darah jika Tuhan tidak mendengar doa saya untuk membebaskan saya dari
kondisi ini. Akankah Yesus, yang begitu baik, memberiku rahmat ini? Apakah Dia setidaknya
mau membebaskan saya dari rasa malu yang disebabkan oleh tanda-tanda lahiriah
ini? Aku akan mengangkat suara dan tidak akan berhenti memohon sampai rahmat-Nya
mengambil pergi, bukan luka atau rasa sakitnya, tapi tanda-tanda lahiriah yang
mengakibatkan rasa malu dan penghinaan yang tak tertahankan . "
Padre
Pio berkata, "Rasa sakit itu begitu kuat sehingga saya mulai merasa
seolah-olah saya mati di kayu salib."
Padre
Pio mengatakan pada Uskup Rossi di bawah sumpah: "Pada 20 September 1918 saya
melihat Tuhan dan saya mendengar suara ini,
“Aku menyatukan engkau dengan SengsaraKu.” Setelah visi menghilang, saya
kembali sadar dari ekstase, dan saya melihat tanda-tanda ini, yang meneteskan
darah. Saya tidak punya apa-apa sebelumnya. "
Telapak
tangan kanan
Stigmata
yang ia tanggung berupa luka yang sangat dalam di tengah tangan dan kakinya dan
di sisi kiri tubuhnya. Tangan dan kakinya tertusuk sampai tembus, seseorang bahkan
bisa melihat cahaya melalui membran yang menutupi luka-lukanya. Dia memakai
sarung pada setengah tangannya, membiarkan jari-jarinya bebas (kecuali selama
Misa), dan kaus kaki di kakinya. Perban yang menutupi luka lambungnya yang
terendam dengan darah pada malam hari, telah diganti keesokan harinya.
Ketika
ditanya mengapa luka di lambung kirinya berada di tempat yang sedikit berbeda
dari tempat luka Tuhan kita, Padre Pio menjawab, "Ini akan terlalu
berlebihan jika itu persis seperti Tuhan." Selain stigmata, Padre Pio menderita
sakit karena mahkota duri dan penderaan hampir seminggu sekali.
Pada
beberapa kesempatan, atas perintah Superior Padre Pio, Keuskupan, dan Paus,
stigmatanya diperiksa oleh dokter dan pejabat gereja dan semuanya menemukan
luka-luka yang tak dapat dijelaskan dan ajaib. Tanpa izin langsung dari
atasannya, tak ada yang bisa melihat luka. Profesor Amico Bignami, profesor
patologi medis di University of Rome, meneliti Padre Pio pada tanggal 12 Juli
1919, atas permintaan Padre Giuseppe da Persiceto, General Prokurator dari Ordo
Kapusin: "Saya tidak mengerti bagaimana luka ini dapat bertahan selama
hampir satu tahun tanpa perubahan menjadi lebih baik atau lebih buruk. "
Luka Padre Pio di tangannya sering terbuka, tetapi tetap benar-benar bebas dari
infeksi. Dia kehilangan sekitar secangkir penuh darah setiap hari dari luka
dilambungnya yang ditutupi oleh kain linen. Dokter lain, Dr. Sanguinetti,
mengatakan pada seorang teman, "Jika Anda atau saya menderita sepersepuluh
saja dari rasa sakit yang diderita Padre Pio dari luka-lukanya, kita akan
mati."
Pada bulan Oktober
1919, Dr Georgio Festa, seorang ahli bedah yang terampil dan sangat
terhormat dari Roma, ditugaskan oleh Pimpinan Jendral Kapusin untuk melakukan
pemeriksaan medis pada luka Padre Pio.
Hal
pertama yang dilakukan ialah mengunjungi provinsial Kapusin di Foggia untuk
memeriksa dokumen Padre Pio yang ada di sana.
Kemudian
mereka melakukan perjalanan ke San Giovanni Rotondo.
Sebagai tamu biara, Dr. Festa dapat mengamati
dari dekat tindakan sehari-hari yang dilakukan Padre Pio dalam komunitasnya.
Saat ia melihat Padre Pio menunaikan tugas rutinnya, ia mencatat keceriaannya, baik rasa humor
maupun partisipasinya dalam percakapan selama rekreasi. Dr. Festa memperhatikan
bahwa Padre Pio tampak berubah setiap kali percakapan beralih ke masalah
rohani. Dia melihat persembahannya yang total
dalam doa dan keinginannya untuk bisa membantu mereka yang membutuhkan
nasihatnya. Ia mengamati asupan yang sangat minim dari makanan harian Padre
Pio. Walaupun demikian, Padre sanggup menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari
mendengar pengakuan dan memberi salam kepada sekian banyak pengunjung di biara
itu. Dr. Festa mengatakan, "Secara keseluruhan, pesona Padre Pio di atas
segalanya, wajah dan tatapan matanya mengungkapkan sesuatu yang begitu
sederhana, begitu baik, kadang-kadang begitu kekanak-kanakan, yang
menginspirasikan rasa kasih dan memberikan kesan ketulusan hati. Kehidupan
biara yang dialaminya disiplin namun sederhana. Kerendahan hati dan
kesederhanaan adalah sifat khasnya yang merupakan daya tarik terbesar bagi
mereka yang datang kepadanya.
Dr.
Festa menyampaikan kepada Padre Pio bahwa ia ingin mengambil sampel darahnya
untuk diperiksa dengan menggunakan mikroskop. Dari luka di sisi tubuhnya
diambilnyalah sepotong kain kecil yang berlumuran darah. Ia menggambarkan luka di sisi tubuhnya tersebut berbentuk
salib miring. Potongan kain itu ditaruhnya dalam sebuah kotak kecil. Ketika ia
meninggalkan biara, ia naik kendaraan dengan beberapa penumpang lain. Meskipun
para penumpang lain di kendaraan itu tidak tahu menahu masalah kain yang
tersimpan dalam kotak tertutup itu, dan ventilasi yang baik pada kendaraan yang
bergerak itu, mereka mencium aroma yang sangat harum dan mereka membicarakan
hal tersebut.
Di
Roma, Dr. Festa meletakkan kain yang berlumuran darah tersebut dalam salah satu
laci di kantornya. Selama beberapa hari dan dalam jangka waktu yang lama,
ruangan tersebut dipenuhi dengan aroma harum dan banyak pasien yang datang ke
ruang prakteknya menanyakan tentang aroma tersebut dan minta penjelasannya.
Aroma tersebut digambarkan sebagai kombinasi dari violet, lily dan mawar.
Karisma
aroma luar biasa dalam kehidupan Padre Pio ini didokumentasikan dengan baik.
Pada saat-saat tertentu ketika Padre Pio merayakan Misa, seluruh gereja akan
diliputi aroma khas dan semua umat yang hadir menyadari hal itu. Ketika
pakaiannya yang bernoda darah dicuci, kerap kali air cuciannya mengeluarkan bau
yang harum.
Dari
waktu ke waktu ratusan ribu orang bersaksi bahwa tanpa sebab musabab mereka tiba-tiba mencium aroma yang sangat
harum yang berkaitan dengan Padre Pio. Padre Pietro da Ischitella, provinsial
biara Kapusin selama tahun pertama stigmata, menyatakan bahwa aroma itu berasal
dari darah yang ke luar dari stigmata Padre Pio. Padre Pietro menggambarkan
darah tersebut "sangat murni dan harum.” Dr. Festa melaporkan bahwa ia
melihat cahaya berkilau yang berasal dari darah stigmata. Digambarkannya
"ada seberkas cahaya, dengan radiasi jelas dan kemilau di sekelilingnya.”
Terkadang
aroma itu dapat dirasakan langsung dari Padre Pio sendiri, pakaiannya,
barang-barangnya, benda-benda yang disentuhnya dan tempat-tempat yang
dilewatinya. Aroma ini kadang-kadang bisa dirasakan juga dari jarak jauh,
bahkan dari jarak ratusan mil. Sebagian besar orang-orang yang dekat dengan
Padre Pio cepat atau lambat mengalami aroma tersebut.
---------------------------
Padre Pio adalah
seorang frater Kapusin berusia 17 tahun yang tinggal di biara St. Fransiskus
Asisi di Santo Elia a Pianisi ketika mengalami bilokasi untuk pertama kalinya.
(Bilokasi adalah sebuah fenomena tatkala
seseorang berada di dua tempat pada waktu yang sama).
Peristiwa itu terjadi pada malam tanggal 18
Januari 1905. Ketika itu ia sedang berdoa di loteng paduan suara di biara pada
jam 11 malam dengan sesama Kapusin, frater Anastasio. Tiba-tiba frater Pio
mendapati dirinya berada di sebuah perkebunan luas dan indah di tempat yang
sangat jauh.
Di
sana ia menolong seorang laki-laki yang sedang menghadapi sakratul maut. Di
rumah yang sama, seorang bayi perempuan baru saja lahir.
Saat
itu juga Perawan Maria berkata kepada Frater Pio: «Saya mempercayakan anak ini
ke dalam pemeliharaanmu. Ia adalah permata yang berharga. Saya ingin agar
engkau dapat memolesnya semengkilat mungkin, kelak suatu hari saya akan
menghiasi diri saya dengannya. » « Tetapi bagaimana saya dapat melakukannya? »
jawab frater Pio. « Saya hanyalah seorang frater Kapusin yang sederhana. Saya
belum dapat membayangkan masa depan saya. Bahkan saya juga tidak tahu kapan
saya ditahbiskan. Di samping itu bagaimana saya dapat mengurus anak itu? » «
Engkau akan mengerti nanti » jawab Perawan
Maria. « Ia akan datang kepadamu » Engkau akan menemuinya di Basilika
Santo Petrus di Roma. » Lalu Perawan
Maria menghilang dari pandangannya dan frater Pio menemukan dirinya
kembali sedang duduk di samping frater Anastasio di kapel.
Frater
Pio tahu bahwa ia tidak tertidur di kapel biara dan bermimpi tentang peristiwa
yang baru saja terjadi. Dia juga mengetahui bahwa kejadian yang baru saja
berlalu bukanlah hasil dari imajinasinya. Bukan juga halusinasinya. Tetapi apa
yang baru saja terjadi, dia tidak tahu. Pengalaman itu sangat aneh maka ia
memutuskan untuk menuliskannya secara terinci dan memberikan testimoninya itu
kepada Padre Agostino.
Ketika
hal itu terjadi, frater Pio tiba-tiba menemukan dirinya berada di rumah indah
milik Giovanni Rizzani. Tempat itu terletak sekitar 350 mil dari kota Udine,
Italia Utara. Giovanni telah menderita sakit parah selama berbulan-bulan. Pada
malam kunjungan frater Pio, Giovanni tergeletak di ranjang kematiannya.
Selama
sakitnya, ia telah memberitahu istrinya
bahwa ia tidak menghendaki kunjungan seorang Imam. Giovanni mempunyai rasa
permusuhan yang sangat besar terhadap Gereja. Teman-temannya mengawasi untuk
memastikan bahwa tidak ada seorangpun anggota gereja yang menghampiri rumahnya.
Leonilde
Rizzani adalah seorang katolik yang saleh. Keinginannya yang terbesar ialah
agar suaminya bisa berdamai dengan Tuhan sebelum kematiannya. Dia berdoa dan
mohon kepada Tuhan agar mengubah hati suaminya. Tampaknya Giovanni telah
mendekati ajalnya, Leonilde mohon belas kasihan Tuhan untuk keselamatan jiwa
suaminya. Ketika dia sedang berdoa, ia melihat seorang biarawan Kapusin muda.
Leonilde tak dapat memahami apa yang sedang terjadi karena biarawan itu
tiba-tiba muncul dan kemudian menghilang tepat di depan matanya.
Giovanna Rizzani ketika berusia 18 tahun
Leonilde
yang sedang mengandung, diakibatkan rasa cemasnya melahirkan seorang bayi
perempuan prematur. Seorang kawan dari kerabatnya memperhatikan kehadiran seorang biarawan Kapusin yang berdiri dalam kegelapan tepat di depan rumah
Rizzani. Ia bersikeras agar biarawan tersebut diperkenankan masuk. Ia
mengetahui bahwa Giovanni telah memberikan perintah khusus yang melarang agar
tak seorang Imam pun diperkenankan masuk. Namun demikian, kelihatannya benar
jika mempersilahkan biarawan tersebut masuk agar dapat membaptis bayi yang baru
lahir tadi.
Begitu
masuk ke dalam rumah, biarawan itu langsung menuju ke kamar Giovanni. Tak ada
yang mencoba menghentikannya. Ia berbicara secara pribadi dengan Giovanni.
Sebelum kunjungannya berakhir, Giovanni mohon ampun atas dosa-dosanya dan
berdamai dengan Tuhan. Tak lama kemudian ia menghembuskan nafasnya yang
terakhir.
Setelah
kematian Giovanni, Leonilde memutuskan untuk pindah ke Roma dengan bayinya,
Giovanna. Pada tahun 1922, ketika Giovanna remaja, ia mengunjungi Basilika
Santo Petrus di Roma. Giovanna berharap
mendapat kesempatan untuk mengaku dosa di Basilika itu. Ia mengalami
keraguan tentang imannya dan karena itu ia merasa bahwa kehidupan spiritualnya berada dalam
keadaan yang rapuh. Oleh sebab itu ia ingin berbicara kepada seorang imam dan
mohon petunjuk. Namun demikian Basilika Santo Petrus akan ditutup dan ia sadar
bahwa ia harus menunggu kesempatan lain.
Giovanna
sudah mendekati pintu ke luar basilika ketika ia melihat seorang Imam Kapusin
berdiri dekat salah satu ruang pengakuan. Ia menyatakan keinginannya untuk
mengaku dosa, dan imam tersebut mau mendengarkan pengakuannya serta memberi
nasihat rohani yang sangat bagus mengenai keraguan tentang imannya. Setelah
meninggalkan ruang pengakuan, Giovanna berkata kepada koster bahwa ia ingin
menunggu imam tadi keluar dari ruang
pengakuan agar dapat menanyakan namanya. Giovanna menunggu dan menunggu tetapi
imam tersebut tidak juga keluar. Akhirnya, koster menengok ke dalam bilik
pengakuan yang ternyata kosong.
Tahun
berikutnya, Giovanna melakukan perjalanan ke San Giovanni Rotondo. Dia berdiri
di koridor yang penuh sesak oleh umat yang sedang menunggu untuk menyambut
Padre Pio. Ketika Padre melewati koridor, ia melihat Giovanna dan berkata
kepadanya, « Nak, aku mengenalmu. Pada saat ayahmu meninggal, kamu lahir».
Giovanna tak dapat mengucapkan sepatah katapun.
Keesokan
harinya, Giovanna kembali ke gereja dan berhasil mengaku dosa kepada Padre Pio.
Dengan penuh kasih Padre Pio menceriterakan kepadanya bahwa ia telah
menunggunya selama bertahun-tahun. Seketika Giovanna berpikir bahwa Padre
keliru dan menganggapnya sebagai orang lain yang dikenalnya. Padre Pio lalu
menceritakan kepadanya bahwa ialah imam yang mendengar pengakuan dosanya tahun
lalu di Basilika Santo Petrus. « Engkau milikku anakku. Engkau telah
dipercayakan kepadaku oleh Perawan Maria » katanya. Kemudian Giovanna membaca pernyataan yang ditulis oleh Padre
Pio kepada Padre Agustiono mengenai pengalaman bilokasinya pada tanggal 18
Januari 1905. Giovanna memperhatikan bahwa semua yang tertulis dalam surat itu
sangat akurat, baik tanggal lahirnya maupun
sejarah keluarganya.
Padre
Pio ingin agar Giovanna sering mengunjunginya. Selama beberapa tahun Giovanna
menghadiri Misa yang dipimpin oleh Padre Pio dan ia mempunyai banyak kesempatan mengaku dosa kepadanya.
Padre menyemangatinya untuk menjadi anggota ordo Ketiga Santo Fransiskus dan ia
melakukannya. Padre benar-benar memelihara jiwa putri rohaninya.
Beberapa
saat sebelum Padre Pio wafat, Giovanna merasa dalam hatinya bahwa Padre Pio
memanggilnya untuk datang ke San Giovanni Rotondo. Empat hari sebelum Padre
meninggal, Giovanna sempat berbicara kepadanya. « Engkau tidak akan bertemu
denganku lagi » kata Padre kepadanya. Ia lalu mengerti bahwa itu merupakan
kunjungan terakhirnya. Giovanna telah merasakan bahwa selama bertahun-tahun,
hidup rohaninya dibimbing oleh seorang kudus. Dia menyadari telah menerima
berkat sangat berlimpah. Aku dapat membantumu lebih banyak lagi jika berada di
surga, » ucapan ini kerap kali diulangi
Padre kepada para putra putri rohaninya..
--------------------------
SELAMAT
MERAYAKAN HARI RAYA BUNDA MARIA DIANGKAT KE SURGA 15 AGUSTUS 2015
SELAMAT
MERAYAKAN PESTA PADRE PIO
23
SEPTEMBER 2015








Tidak ada komentar:
Posting Komentar