Senin, 06 Juli 2015

BULETIN PHD 06 / 2015 - JUL - AGT - SEP 2015



BERKORBAN

Korban merupakan sepenggal kata yang mudah diucapkan tetapi sulit dilakukan. Padre Pio memaknai kata korban sebagai suatu pemberian diri yang sempurna kepada Tuhan dan sesama. Korban bagi Padre Pio bukan sekedar sebuah kata mati, melainkan sebuah kata yang membutuhkan praktek. Sejak masa mudanya, yakni di masa awal menjadi seorang frater, dia telah berusaha sungguh-sungguh menjalani korban bagi Tuhan dan sesama. Dia bersedia dipimpin oleh Tuhan dan dijadikan alat Tuhan untuk menolong orang lain. Dia juga mampu melintasi keterbatasan ruang dan waktu dalam peristiwa unik bilokasi untuk menjalani pengorbanan dalam hidupnya. Sejak masa mudanya, Padre Pio telah dipilih oleh Tuhan untuk melakukan hal-hal besar dan mengagumkan. Dia menjawab panggilan Tuhan dan membiarkan dirinya dituntun oleh kasih Tuhan. Saat ditahbiskan menjadi seorang imam Kapusin, dengan sangat indah dia menuliskan idealismenya untuk memberikan hidupnya demi menolong orang berdosa. Perjanjian itu dilaksanakannya dengan sungguh-sungguh. Baginya, korban bukanlah sebuah kata mati, melainkan sebuah kata hidup dan menuntut kita untuk mempraktekkannya.

(Pastor Thomas Alfred Dino, OFMCap. – Moderator KSPP)


"Saya percaya bahwa Padre Pio menerima rahmat dan beban
bukan hanya karena memperbarui secara mistis Kurban Salib,
tapi menghidupi Sengsara Kristus itu, dalam hati dan tubuhnya. "
(Most Rev. Mgr. Giuseppe Petralia, Bishop of Agriegento (Sicily) August 10, 1975)



The Transverberation of Padre Pio’s Heart
                                

Padre Pio ditahbiskan sebagai imam pada usia 23 tahun di Benevento, Italia pada tanggal 10 Agustus 1910. Ia mengungkapkan perasaannya yang dituliskannya pada kartu pentahbisannya “Yesus, helaan nafas dan hidupku, hari ini, dengan gemetar - sepenuh hati, aku memuliakan Engkau dalam misteri cinta. Bersama-Mu biarlah aku menjadi jalan, kebenaran dan hidup bagi dunia, namun bagi-Mu jadikanlah aku seorang imam yang kudus, korban yang sempurna”.

Pemikiran dan tulisan-tulisannya yang mengacu kepada kata ‘korban’ muncul berulang kali.
Dalam suratnya kepada pembimbing rohaninya Padre Benedetto Nardella, Padre Pio mohon izin untuk memperbaharui penyerahan dirinya sebagai korban. “Di masa lalu, saya merasa perlu mempersembahkan diri kepada Tuhan sebagai korban bagi para pendosa yang malang dan untuk jiwa-jiwa di Api Penyucian.   Keinginan itu terus bertumbuh dalam hatiku sehingga sekarang menjadi apa yang kunamakan gairah yang kuat. Sebenarnya persembahan ini  kerap kali telah saya lakukan, memohon kepada-Nya untuk menimpakan kepadaku hukuman yang telah dipersiapkan-Nya bagi para pendosa dan bagi jiwa-jiwa di Api Penyucian, bahkan melipat gandakan beratus-ratus kali hukuman tersebut bagiku … tetapi sekarang saya ingin membuat persembahan kepada Tuhan ini dalam  ketaatan kepadamu Padre. Bagiku kelihatannya Yesus sungguh menghendaki hal ini.”

Padre Benedetto menyelami keinginan hati Padre Pio dan memberi izin kepadanya agar mempersembahkan hidupnya bagi Tuhan.
Kelihatannya Tuhan mendengar dan melihat, menunggu dan mempersiapkannya dari hari ke hari untuk misi yang besar itu yang merupakan sebagian dari rencana-Nya bagi Padre Pio.

Pada tgl 5 Agustus 1918, Padre Pio menerima luka cinta mistik yang disebut sebagai transverberation atau transfixion of the heart. Transverberation merupakan karunia mistik rahmat kudus, yang hanya dialami oleh sedikit jiwa-jiwa terpilih dalam sejarah Kekristenan.
Dalam teologi mistik hal itu digambarkan sebagai fenomena yang luar biasa karena pada saat  itu makhluk surgawi seperti malaikat atau serafim terlihat menusukkan sebilah pedang pada jantung atau pada sisi tubuh.


                                                        Bentuk luka di sisi tubuh yang dilukiskan Padre Pio

Walaupun  terasa sakit luar biasa, namun juga disertai suka cita yang tak dapat terlukiskan dengan kata-kata.
Santa Teresa dari Avila, Pujangga Gereja, mengalami juga hal serupa dan menuliskannya dalam autobiografinya. Santo Yohanes dari Salib, dari Spanyol, pembaharu ordo Karmelit, Pujangga Gereja dan teolog mistik lebih lanjut menjelaskan fenomena ini dalam risalahnya: “Api Cinta Hidup.” Santo Yohanes berkata, “Hal ini dapat terjadi jika jiwa mempunyai cinta yang membara kepada Tuhan… akan merasakan dikuasai oleh Serafim dengan panah api cinta yang berkobar… Jika Tuhan terkadang mengizinkan luka tersebut kasat mata, terlihat seperti tanda yang diakibatkan oleh  luka  yang dalam.”

Pada tanggal 21 Agustus 1918, enam belas hari setelah menerima karunia transverberation yang luar biasa itu, Padre Pio menulis kepada Padre Benedetto dan menceritakan pengalamannya:

Berdasarkan ketaatan, saya telah memutuskan untuk mengungkapkan kepada anda kejadian pada malam hari tgl 5 Agt  dan sepanjang esok harinya tgl 6 Agt.. Saya hampir tak dapat mengungkapkan kepada anda hal yang terjadi pada malam siksaan itu. Pada petang hari tanggal 5 Agustus, ketika saya mendengar pengakuan dosa para seminaris (Padre Pio adalah bapa rohani di seminari menengah dari tahun 1916-1932), saya tiba-tiba merasakan kengerian karena penglihatan akan makhluk surgawi yang menampakkan diri pada mata batinku.
Tangannya menggengam semacam senjata seperti pisau baja runcing
sangat panjang, yang tampaknya memancarkan api. Saat saya melihat semua ini, makhluk tersebut dengan sangat cepat menusukkan senjata ke dalam jiwa saya dengan sekuat tenaga. Saya berteriak dengan susah payah dan  merasa sedang sekarat. Saya meminta seminaris itu pergi karena saya merasa sakit dan kuat lagi untuk melanjutkan.
Penderitaan ini berlangsung tanpa henti sampai pagi hari tgl 7 Agustus.
Saya tak bisa menceriterakan betapa besar penderitaanku selama masa itu.
Bahkan organ internal saya terkoyak dan tercabik oleh senjata,
dan tak ada yang luput. Sejak hari itu saya terluka parah. Saya
merasa di kedalaman jiwa saya ada luka yang selalu menganga,
menyebabkan saya kesakitan terus-menerus. "


Dalam suratnya kepada Padre Benedetto, Padre Pio tidak berbicara secara metaforis. Dia telah terluka secara fisik dengan sebuah lubang pada sisi kiri tubuhnya menembus ke jantung hatinya dan luka tersebut akan berdarah selama sisa hidupnya. Setelah transverberation, karena rasa sakit yang hebat dan tubuhnya lemah, ia berada di tempat tidur selama tiga hari.

Ketika membalas surat itu, Padre Benedetto, Bapa rohani dan yang dikaruniai rahmat sebagai pembimbing jiwa yang handal, menulis dan berkata, "Semua yang terjadi padamu adalah akibat dari cinta. Ini adalah percobaan, panggilan untuk bekerja sama dalam karya penebusan dan karenanya menjadi sumber kemuliaan. . . Tuhan menyertaimu. Ia sendiri  Sabar, Menderita karena Cinta, Penuh Kerinduan. Hati dan Perasaan-Nya yang terdalam, hancur dan diinjak-injak, Hati-Nya hancur lebur, dalam bayang-bayang malam dan bahkan terlebih lagi dalam kesedihan di taman Getsemani. Ia menyatukan penderitaan-Nya dengan penderitaanmu dan penderitaanmu dengan penderitaan-Nya. Demikianlah… Percobaanmu bukanlah penyucian, akan tetapi persatuan yang menyakitkan. Fakta bahwa luka itu melengkapi penderitaanmu sama seperti melengkapi  penderitaan Sang Kekasih di Kayu Salib. Akankah cahaya dan sukacita kebangkitan mengikuti? Saya harap demikian, jika semua ini sesuai dengan kehendak-Nya. Ciumlah tangan yang telah tertembus itu dan hargailah dengan lembut luka ini yang merupakan meterai cinta.”

Sangat penting untuk diketahui bahwa, Padre Pio menerima transverberation pada malam hari raya Transfigurasi (6 Agustus), saat ia mendengar pengakuan, sakramen yang memegang peran penting dalam misi dan pelayanannya bagi jiwa-jiwa.

Padre Pio menjalani seluruh hidupnya dalam persatuan kasih dengan Kristus. Puncak kehidupannya bersama Kristus adalah disalibkan bersama-Nya.


*Transverberation: " luka dengan rasa jantung bagaikan dicabik-cabik dan hal itu mengindikasikan persatuan kasih atau persatuan tertinggi yang dianugerahkan oleh Tuhan Allah kepada orang yang sangat istimewa dalam pandangan Allah."


                                                --------------------


Sekitar satu bulan lebih setelah transverberation itu, pada tgl 20 Sep 1918, rasa sakit transverberation telah berhenti dan Padre Pio mengalami rasa damai yang sangat mendalam.
Setelah merayakan Misa, sementara Padre Pio sedang berdoa syukur di loteng paduan suara di Gereja Our Lady of Grace, Padre Pio mengalami kejadian luar biasa lainnya. Seorang yang sama yang telah memberinya transverberation, dan yang diyakini sebagai Kristus yang terluka, muncul lagi.
Padre Pio menerima  Stigmata - lima luka Kristus, yang menjadi permanen dan akan tinggal padanya selama lima puluh tahun ke depan hidupnya, yang menjadi penegasan kemiripannya dengan Sang Juru Selamat. Padre Pio yang saat itu berusia 31 tahun, adalah imam pertama yang menerima stigmata dalam Sejarah Gereja.


                           Salib  yang terletak di loteng paduan suara Gereja Our Lady of Grace
                           saat Padre Pio menerima stigmata


Dalam sebuah surat kepada Bapa Benedetto pada tanggal 22 Oktober 1918, Padre Pio menggambarkan pengalamannya saat menerima Stigmata:

"Pada pagi hari tanggal 20 bulan lalu, di tempat paduan suara, setelah saya merayakan Misa saya menyerah pada rasa kantuk yang membawa pada tidur lelap… Saya melihat di depan saya seorang yang misterius mirip dengan yang saya lihat pada tgl 5 Agt malam. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa dari tangan dan kaki dan sisi tubuhnya menetes darah. Pemandangan ini menakutkan saya dan apa yang saya rasakan saat itu tak terlukiskan. Saya pikir saya akan mati jika Tuhan tidak campur tangan dan memperkuat hatiku yang hendak meledak keluar dari dada saya. Penglihatan menghilang, lalu saya sadar bahwa tangan, kaki dan sisi tubuh saya meneteskan darah. Bayangkan penderitaan yang saya alami terus menerus setiap hari.. Luka di hati berdarah terus menerus, terutama dari Kamis malam hingga Sabtu. Bapa yang terkasih, saya merasa mau mati  kesakitan karena luka ini dan malu sekali. Saya takut akan mati kehabisan darah jika Tuhan tidak mendengar doa saya untuk membebaskan saya dari kondisi ini. Akankah Yesus, yang begitu baik, memberiku rahmat ini? Apakah Dia setidaknya mau membebaskan saya dari rasa malu yang disebabkan oleh tanda-tanda lahiriah ini? Aku akan mengangkat suara dan tidak akan berhenti memohon sampai rahmat-Nya mengambil pergi, bukan luka atau rasa sakitnya, tapi tanda-tanda lahiriah yang mengakibatkan rasa malu dan penghinaan yang tak tertahankan . "

Padre Pio berkata, "Rasa sakit itu begitu kuat sehingga saya mulai merasa seolah-olah saya mati di kayu salib."

Padre Pio mengatakan pada Uskup Rossi di bawah sumpah: "Pada 20 September 1918 saya melihat Tuhan dan saya mendengar suara ini,  “Aku menyatukan engkau dengan SengsaraKu.” Setelah visi menghilang, saya kembali sadar dari ekstase, dan saya melihat tanda-tanda ini, yang meneteskan darah. Saya tidak punya apa-apa sebelumnya. "



                                          Telapak tangan kanan





Stigmata yang ia tanggung berupa luka yang sangat dalam di tengah tangan dan kakinya dan di sisi kiri tubuhnya. Tangan dan kakinya tertusuk sampai tembus, seseorang bahkan bisa melihat cahaya melalui membran yang menutupi luka-lukanya. Dia memakai sarung pada setengah tangannya, membiarkan jari-jarinya bebas (kecuali selama Misa), dan kaus kaki di kakinya. Perban yang menutupi luka lambungnya yang terendam dengan darah pada malam hari, telah diganti keesokan harinya.

Ketika ditanya mengapa luka di lambung kirinya berada di tempat yang sedikit berbeda dari tempat luka Tuhan kita, Padre Pio menjawab, "Ini akan terlalu berlebihan jika itu persis seperti Tuhan." Selain stigmata, Padre Pio menderita sakit karena mahkota duri dan penderaan hampir seminggu sekali.

Pada beberapa kesempatan, atas perintah Superior Padre Pio, Keuskupan, dan Paus, stigmatanya diperiksa oleh dokter dan pejabat gereja dan semuanya menemukan luka-luka yang tak dapat dijelaskan dan ajaib. Tanpa izin langsung dari atasannya, tak ada yang bisa melihat luka. Profesor Amico Bignami, profesor patologi medis di University of Rome, meneliti Padre Pio pada tanggal 12 Juli 1919, atas permintaan Padre Giuseppe da Persiceto, General Prokurator dari Ordo Kapusin: "Saya tidak mengerti bagaimana luka ini dapat bertahan selama hampir satu tahun tanpa perubahan menjadi lebih baik atau lebih buruk. " Luka Padre Pio di tangannya sering terbuka, tetapi tetap benar-benar bebas dari infeksi. Dia kehilangan sekitar secangkir penuh darah setiap hari dari luka dilambungnya yang ditutupi oleh kain linen. Dokter lain, Dr. Sanguinetti, mengatakan pada seorang teman, "Jika Anda atau saya menderita sepersepuluh saja dari rasa sakit yang diderita Padre Pio dari luka-lukanya, kita akan mati."




Pada bulan Oktober 1919, Dr Georgio Festa, seorang ahli bedah yang terampil dan sangat terhormat dari Roma, ditugaskan oleh Pimpinan Jendral Kapusin untuk melakukan pemeriksaan medis pada luka Padre Pio.
Hal pertama yang dilakukan ialah mengunjungi provinsial Kapusin di Foggia untuk memeriksa dokumen Padre Pio yang ada di sana.
Kemudian mereka melakukan perjalanan ke San Giovanni Rotondo.

 Sebagai tamu biara, Dr. Festa dapat mengamati dari dekat tindakan sehari-hari yang dilakukan Padre Pio dalam komunitasnya. Saat ia melihat Padre Pio menunaikan tugas rutinnya,  ia mencatat keceriaannya, baik rasa humor maupun partisipasinya dalam percakapan selama rekreasi. Dr. Festa memperhatikan bahwa Padre Pio tampak berubah setiap kali percakapan beralih ke masalah rohani. Dia melihat persembahannya yang total  dalam doa dan keinginannya untuk bisa membantu mereka yang membutuhkan nasihatnya. Ia mengamati asupan yang sangat minim dari makanan harian Padre Pio. Walaupun demikian, Padre sanggup menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari mendengar pengakuan dan memberi salam kepada sekian banyak pengunjung di biara itu. Dr. Festa mengatakan, "Secara keseluruhan, pesona Padre Pio di atas segalanya, wajah dan tatapan matanya mengungkapkan sesuatu yang begitu sederhana, begitu baik, kadang-kadang begitu kekanak-kanakan, yang menginspirasikan rasa kasih dan memberikan kesan ketulusan hati. Kehidupan biara yang dialaminya disiplin namun sederhana. Kerendahan hati dan kesederhanaan adalah sifat khasnya yang merupakan daya tarik terbesar bagi mereka yang datang kepadanya.

Dr. Festa menyampaikan kepada Padre Pio bahwa ia ingin mengambil sampel darahnya untuk diperiksa dengan menggunakan mikroskop. Dari luka di sisi tubuhnya diambilnyalah sepotong kain kecil yang berlumuran darah. Ia menggambarkan  luka di sisi tubuhnya tersebut berbentuk salib miring. Potongan kain itu ditaruhnya dalam sebuah kotak kecil. Ketika ia meninggalkan biara, ia naik kendaraan dengan beberapa penumpang lain. Meskipun para penumpang lain di kendaraan itu tidak tahu menahu masalah kain yang tersimpan dalam kotak tertutup itu, dan ventilasi yang baik pada kendaraan yang bergerak itu, mereka mencium aroma yang sangat harum dan mereka membicarakan hal tersebut.

Di Roma, Dr. Festa meletakkan kain yang berlumuran darah tersebut dalam salah satu laci di kantornya. Selama beberapa hari dan dalam jangka waktu yang lama, ruangan tersebut dipenuhi dengan aroma harum dan banyak pasien yang datang ke ruang prakteknya menanyakan tentang aroma tersebut dan minta penjelasannya. Aroma tersebut digambarkan sebagai kombinasi dari violet, lily dan mawar.

Karisma aroma luar biasa dalam kehidupan Padre Pio ini didokumentasikan dengan baik. Pada saat-saat tertentu ketika Padre Pio merayakan Misa, seluruh gereja akan diliputi aroma khas dan semua umat yang hadir menyadari hal itu. Ketika pakaiannya yang bernoda darah dicuci, kerap kali air cuciannya mengeluarkan bau yang harum.

Dari waktu ke waktu ratusan ribu orang bersaksi bahwa tanpa sebab musabab  mereka tiba-tiba mencium aroma yang sangat harum yang berkaitan dengan Padre Pio. Padre Pietro da Ischitella, provinsial biara Kapusin selama tahun pertama stigmata, menyatakan bahwa aroma itu berasal dari darah yang ke luar dari stigmata Padre Pio. Padre Pietro menggambarkan darah tersebut "sangat murni dan harum.” Dr. Festa melaporkan bahwa ia melihat cahaya berkilau yang berasal dari darah stigmata. Digambarkannya "ada seberkas cahaya, dengan radiasi jelas dan kemilau di sekelilingnya.”

Terkadang aroma itu dapat dirasakan langsung dari Padre Pio sendiri, pakaiannya, barang-barangnya, benda-benda yang disentuhnya dan tempat-tempat yang dilewatinya. Aroma ini kadang-kadang bisa dirasakan juga dari jarak jauh, bahkan dari jarak ratusan mil. Sebagian besar orang-orang yang dekat dengan Padre Pio cepat atau lambat mengalami aroma tersebut.

                                                         
                                        ---------------------------





Padre Pio adalah seorang frater Kapusin berusia 17 tahun yang tinggal di biara St. Fransiskus Asisi di Santo Elia a Pianisi ketika mengalami bilokasi untuk pertama kalinya. (Bilokasi adalah sebuah fenomena tatkala seseorang berada di dua tempat pada waktu yang sama).
 Peristiwa itu terjadi pada malam tanggal 18 Januari 1905. Ketika itu ia sedang berdoa di loteng paduan suara di biara pada jam 11 malam dengan sesama Kapusin, frater Anastasio. Tiba-tiba frater Pio mendapati dirinya berada di sebuah perkebunan luas dan indah di tempat yang sangat jauh.
Di sana ia menolong seorang laki-laki yang sedang menghadapi sakratul maut. Di rumah yang sama, seorang bayi perempuan baru saja lahir.

Saat itu juga Perawan Maria berkata kepada Frater Pio: «Saya mempercayakan anak ini ke dalam pemeliharaanmu. Ia adalah permata yang berharga. Saya ingin agar engkau dapat memolesnya semengkilat mungkin, kelak suatu hari saya akan menghiasi diri saya dengannya. » « Tetapi bagaimana saya dapat melakukannya? » jawab frater Pio. « Saya hanyalah seorang frater Kapusin yang sederhana. Saya belum dapat membayangkan masa depan saya. Bahkan saya juga tidak tahu kapan saya ditahbiskan. Di samping itu bagaimana saya dapat mengurus anak itu? » « Engkau akan mengerti nanti » jawab Perawan  Maria. « Ia akan datang kepadamu » Engkau akan menemuinya di Basilika Santo Petrus di Roma. » Lalu Perawan  Maria menghilang dari pandangannya dan frater Pio menemukan dirinya kembali sedang duduk di samping frater Anastasio di kapel.

Frater Pio tahu bahwa ia tidak tertidur di kapel biara dan bermimpi tentang peristiwa yang baru saja terjadi. Dia juga mengetahui bahwa kejadian yang baru saja berlalu bukanlah hasil dari imajinasinya. Bukan juga halusinasinya. Tetapi apa yang baru saja terjadi, dia tidak tahu. Pengalaman itu sangat aneh maka ia memutuskan untuk menuliskannya secara terinci dan memberikan testimoninya itu kepada Padre Agostino.

Ketika hal itu terjadi, frater Pio tiba-tiba menemukan dirinya berada di rumah indah milik Giovanni Rizzani. Tempat itu terletak sekitar 350 mil dari kota Udine, Italia Utara. Giovanni telah menderita sakit parah selama berbulan-bulan. Pada malam kunjungan frater Pio, Giovanni tergeletak di ranjang kematiannya.

Selama sakitnya,  ia telah memberitahu istrinya bahwa ia tidak menghendaki kunjungan seorang Imam. Giovanni mempunyai rasa permusuhan yang sangat besar terhadap Gereja. Teman-temannya mengawasi untuk memastikan bahwa tidak ada seorangpun anggota gereja yang menghampiri rumahnya.

Leonilde Rizzani adalah seorang katolik yang saleh. Keinginannya yang terbesar ialah agar suaminya bisa berdamai dengan Tuhan sebelum kematiannya. Dia berdoa dan mohon kepada Tuhan agar mengubah hati suaminya. Tampaknya Giovanni telah mendekati ajalnya, Leonilde mohon belas kasihan Tuhan untuk keselamatan jiwa suaminya. Ketika dia sedang berdoa, ia melihat seorang biarawan Kapusin muda. Leonilde tak dapat memahami apa yang sedang terjadi karena biarawan itu tiba-tiba muncul dan kemudian menghilang tepat di depan matanya.


                                                   Giovanna Rizzani ketika berusia 18 tahun


Leonilde yang sedang mengandung, diakibatkan rasa cemasnya melahirkan seorang bayi perempuan prematur. Seorang kawan dari kerabatnya memperhatikan kehadiran  seorang biarawan Kapusin yang  berdiri dalam kegelapan tepat di depan rumah Rizzani. Ia bersikeras agar biarawan tersebut diperkenankan masuk. Ia mengetahui bahwa Giovanni telah memberikan perintah khusus yang melarang agar tak seorang Imam pun diperkenankan masuk. Namun demikian, kelihatannya benar jika mempersilahkan biarawan tersebut masuk agar dapat membaptis bayi yang baru lahir tadi.

Begitu masuk ke dalam rumah, biarawan itu langsung menuju ke kamar Giovanni. Tak ada yang mencoba menghentikannya. Ia berbicara secara pribadi dengan Giovanni. Sebelum kunjungannya berakhir, Giovanni mohon ampun atas dosa-dosanya dan berdamai dengan Tuhan. Tak lama kemudian ia menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Setelah kematian Giovanni, Leonilde memutuskan untuk pindah ke Roma dengan bayinya, Giovanna. Pada tahun 1922, ketika Giovanna remaja, ia mengunjungi Basilika Santo Petrus di Roma. Giovanna berharap  mendapat kesempatan untuk mengaku dosa di Basilika itu. Ia mengalami keraguan tentang imannya dan karena itu ia merasa  bahwa kehidupan spiritualnya berada dalam keadaan yang rapuh. Oleh sebab itu ia ingin berbicara kepada seorang imam dan mohon petunjuk. Namun demikian Basilika Santo Petrus akan ditutup dan ia sadar bahwa ia harus menunggu kesempatan lain.

Giovanna sudah mendekati pintu ke luar basilika ketika ia melihat seorang Imam Kapusin berdiri dekat salah satu ruang pengakuan. Ia menyatakan keinginannya untuk mengaku dosa, dan imam tersebut mau mendengarkan pengakuannya serta memberi nasihat rohani yang sangat bagus mengenai keraguan tentang imannya. Setelah meninggalkan ruang pengakuan, Giovanna berkata kepada koster bahwa ia ingin menunggu imam tadi  keluar dari ruang pengakuan agar dapat menanyakan namanya. Giovanna menunggu dan menunggu tetapi imam tersebut tidak juga keluar. Akhirnya, koster menengok ke dalam bilik pengakuan yang ternyata kosong.

Tahun berikutnya, Giovanna melakukan perjalanan ke San Giovanni Rotondo. Dia berdiri di koridor yang penuh sesak oleh umat yang sedang menunggu untuk menyambut Padre Pio. Ketika Padre melewati koridor, ia melihat Giovanna dan berkata kepadanya, « Nak, aku mengenalmu. Pada saat ayahmu meninggal, kamu lahir». Giovanna tak dapat mengucapkan sepatah katapun.

Keesokan harinya, Giovanna kembali ke gereja dan berhasil mengaku dosa kepada Padre Pio. Dengan penuh kasih Padre Pio menceriterakan kepadanya bahwa ia telah menunggunya selama bertahun-tahun. Seketika Giovanna berpikir bahwa Padre keliru dan menganggapnya sebagai orang lain yang dikenalnya. Padre Pio lalu menceritakan kepadanya bahwa ialah imam yang mendengar pengakuan dosanya tahun lalu di Basilika Santo Petrus. « Engkau milikku anakku. Engkau telah dipercayakan kepadaku oleh Perawan Maria » katanya. Kemudian Giovanna  membaca pernyataan yang ditulis oleh Padre Pio kepada Padre Agustiono mengenai pengalaman bilokasinya pada tanggal 18 Januari 1905. Giovanna memperhatikan bahwa semua yang tertulis dalam surat itu sangat akurat, baik tanggal lahirnya maupun  sejarah keluarganya.

Padre Pio ingin agar Giovanna sering mengunjunginya. Selama beberapa tahun Giovanna menghadiri Misa yang dipimpin oleh Padre Pio dan ia mempunyai  banyak kesempatan mengaku dosa kepadanya. Padre menyemangatinya untuk menjadi anggota ordo Ketiga Santo Fransiskus dan ia melakukannya. Padre benar-benar memelihara jiwa putri rohaninya.

Beberapa saat sebelum Padre Pio wafat, Giovanna merasa dalam hatinya bahwa Padre Pio memanggilnya untuk datang ke San Giovanni Rotondo. Empat hari sebelum Padre meninggal, Giovanna sempat berbicara kepadanya. « Engkau tidak akan bertemu denganku lagi » kata Padre kepadanya. Ia lalu mengerti bahwa itu merupakan kunjungan terakhirnya. Giovanna telah merasakan bahwa selama bertahun-tahun, hidup rohaninya dibimbing oleh seorang kudus. Dia menyadari telah menerima berkat sangat berlimpah. Aku dapat membantumu lebih banyak lagi jika berada di surga, » ucapan ini kerap kali diulangi  Padre kepada para putra putri rohaninya..

--------------------------



                       
              

SELAMAT MERAYAKAN HARI RAYA BUNDA MARIA DIANGKAT KE SURGA 15 AGUSTUS 2015



                              SELAMAT MERAYAKAN PESTA PADRE PIO
                                                      23 SEPTEMBER 2015




Tidak ada komentar:

Posting Komentar